Showing posts with label Iktibar Kisah. Show all posts
Showing posts with label Iktibar Kisah. Show all posts

22 November 2011

Tha'labah bin Abdur-Rahman

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Qudamah r.a. dalam kitabnya Kitaabut-Tawwabeen daripada Jabir bin Abdullah r.a. berkata: Ada seorang anak muda dari Kaum Ansar, yang bernama Tha'labah bin Abdur-Rahman menerima Islam ketika usianya begitu muda dan sejak itu sebahagian dari kehidupannya menjalankan tugas untuk Rasulullah s.a.w.

Suatu hari Rasulullah menyuruhnya untuk melaksanakan beberapa pekerjaan dan dalam perjalanannya ke Kota Madinah, ia melalui pintu sebuah rumah seorang Ansar dan dengan tidak sengaja melihat  seorang wanita sedang mandi. Dia terus mengalih pandangnya dan berasa begitu berdosa.

Tha'labah sangat takut bahawa Allah akan mendedahkan kepada Rasulullah bukti kemunafikannya dan amat takut untuk bersua muka dengan Rasulullah. Lalu ia melarikan diri ke pergunungan antara Mekah dan Madinah. Hari berlalu dan Nabi terus bertanya kepada para sahabat yang lain jika mereka ada melihat Tha'labah. Namun semua jawapan menghampakannya.

Setelah 40 hari, Jibril a.s. datang kepada Rasulullah dan berkata, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengucapkan Salam kepadamu dan mengatakan bahawa salah seorang daripada sahabatmu ada di pergunungan antara Mekah dan Madinah. Lalu Rasulullah menghantar Umar Ibn Al-Khattab dan Salman Al-Parsi r.a. untuk mencarinya. Mereka berdua mencarinya sehingga sampai ke pergunungan antara Mekah dan Madinah di mana di situ mereka berjumpa dengan berapa orang penggembala kambing. Sahabat berdua bertanya kepada mereka jika ada melihat seorang pemuda yang berciri-ciri Tha'labah. Pengembala itu berkata, "Sudah tentu kamu berdua sedang mencari seorang pemuda yang sering menangis itu." Penggembala itu menggambarkan pemuda itu sering datang dari pergunungan di malam hari menangis dan menangis, keadaan badannya amat letih dan kurus, kemudian kami memberinya susu untuk diminum. Lalu dia pergi semula ke gunung terus menangis dan menangis, kerap meminta keampunan dan taubat kepada Allah. Dari penerangan itu lalu sahabat berdua menunggu sehingga dia turun dan mengawasinya.

Ketika Tha'alabah turun dari gunung malam itu, sahabat berdua terus mendapatinya dan berkeras untuk membawanya kembali kepada Rasulullah tapi dia menolak dan bertanya samada Allah ada mengungkapkan ayat-ayat mengatakan bahawa ia munafik. Sahabat berdua mengatakan bahawa mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang adanya ayat tersebut.

Tha'labah dibawa kembali ke Madinah dan ia begitu takut dan meminta kepada sahabat untuk tidak membawanya kepada Rasulullah kecuali ketika Baginda sedang bersolat. Ketika dia mendengar bacaan Rasulullah dalam solat, ia memberanikan diri datang dan berjemaah bersamanya. Selesai solat Rasulullah bertanya kepada Umar dan Salman r.a. tentang Tha'labah. Dia dibawa ke hadapan Rasulullah, lalu ia bertanya kepadanya, "Mengapa kau lari dari saya?" Tha'labah berkata, "Saya melarikan diri kerana dosa-dosa saya." Rasulullah berkata, "Tidakkah pernah aku menceritakan tentang ayat yang menghapuskan semua dosa dan kesalahan?" Dia mengatakan, "Ya ada Rasulullah. Rasulullah memintanya untuk membaca Surah al-Baqarah ayat 201


Setelah itu Tha'labah jatuh sakit selama seminggu. Salman Al-Parsi r.a. datang kepada Rasulullah dan berkata Tha'labah berada di ambang kematian. Lantas Rasulullah berdiri dan pergi ke rumahnya. Setiba di rumahnya, Baginda mengangkat tubuh Tha'labah yang sangat lemah dan meletakkan kepala Tha'labah di pangkuannya. Dia berkata, "Wahai Nabi Allah, lepaskan kepalaku yang berdosa jauh darimu. Rasulullah menghiburnya sampai ia memberitahu Nabi Muhammad s.a.w., saya merasa seolah-olah semut yang berjalan antara dagingku dan tulang. Rasulullah mengatakan bahawa itu adalah tanda kematian dan waktunya telah tiba. Baginda bertanya apa yang anda ingin miliki? Dia mengatakan, pengampunan Tuhanku.

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus Jibril a.s. kepada Rasulullah dan berkata, "Tuhanmu mengatakan Salam kepadamu dan Dia mengatakan, jika hamba~Ku bertemu Aku dengan dosa sebesar bumi sekalipun, keampunan~Ku meliputi seluruh bumi." Terdengar sahaja perkhabaran itu, terkeluarlah dari mulut Tha'labah, "Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar". Pulanglah Tha'labah kepada Tuhan-Nya dalam keadaan tenang disisi Nabinya.

Setelah Tha'labah meninggal, Rasulullah meminta sahabat-sahabat untuk memandi dan mengkafankannya. Setelah solat jenazah, dalam perjalanan ke kubur, Rasulullah terpaksa berjalan dengan jari-jari kakinya (terjengkit-jengkit) seolah-olah dia berada di tengah orang ramai. Ketika ia ditanya tentang hal ini, Rasulullah mengatakan dia amat payah untuk mencari tempat berpijak kerana terlalu ramai malaikat yang mengikuti usungan jenazah itu.

Itulah Taqwa seorang anak muda Ansar. RadhiyAllahu 'Anhum wa Radhu' Anh.

9 May 2011

Kisah Barsisa

*diperolehi ketika mengikuti Taman Syurga kelolaan Ustazah Mursyidah


Dikisahkan, pada suatu masa hiduplah seorang abid bernama Barsisa yang terkenal kesolehan dan ketaatannya. Umurnya dihabiskan untuk melakukan berbagai macam bentuk ibadah, sehingga semua orang mengagumi kesolehan dan ketaatannya. Bahkan, dia menjadi buah bibir dan teladan bagi manusia lain yang hidup di zaman itu. 


Melihat ketaatan sang abid yang begitu tinggi, muncullah keinginan syaitan untuk menyesatkannya. Maka pergilah syaitan ke tempat sang abid beribadah dalam wujud manusia yang sudah tua. Syaitan pun melaksanakan solat dan berbagai ibadah lainnya, seperti abid yang soleh. 



Semenjak awal kedatangan orang tersebut, ternyata secara diam-diam Barsisa telah memperhatikan semua yang dilakukannya. Setelah beberapa hari beribadah di tempat itu, Barsisa merasakan ada sesuatu yang aneh atau bahkan sesuatu yang mengagumkan dari ibadah orang itu. Semenjak awal kedatangannya sampai beberapa hari berikutnya, Barsisa tidak melihat dia keluar dan meninggalkan tempat ibadahnya sedetikpun. Dia begitu khusyuk beribadah sampai melupakan makan, minum, tidur seperti manusia lainnya.

Barsisapun berfikir dan berkata dalam hatinya, “Ternyata ibadah saya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan orang ini. Saya yang dianggap orang lain paling soleh, namun seringkali meninggalkan tempat ibadah untuk makan disaat lapar, minum ketika haus, dan tidur waktu mengantuk. Sedangkan dia melupakan segalanya”. Muncullah keinginan dari Barsisa untuk belajar dan menanyakan rahasia khusyuk beribadah sampai bisa melupakan makan, minum, dan tidur. 


Setelah selesai solat, datanglah Barsisa menghampiri orang itu seraya mengucapkan salam. Barsisa kemudian memperkenalkan diri kepada orang itu, kemudian bertanya kepadanya, “Tuan! Saya perhatikan semenjak awal kedatangan anda ke tempat ini beberapa hari yang lalu, tidak sekalipun anda keluar meninggalkan ibadah untuk makan, minum, tidur dan sebagainya. Saya melihat anda begitu khusyuknya beribadah hingga melupakan semua itu. Jika tuan tidak keberatan tunjukkanlah kepadaku, bagaimana rahsianya agar saya bisa pula beribah seperti yang anda lakukan”. Syaitan “sang penyamar” menjawab "Rahsianya adalah, engkau harus berbuat dosa terlebih dahulu. Sebab, bila manusia berdosa dia akan beribadah dengan penuh rasa takut sehingga menimbulkan kekhusyukan, dan dia akan lupa segalanya, yang ada hanya rasa takut dan penyesalan”. 



Sang abid ternyata membenarkan teori syaitan tersebut dalam hatinya, dan berkeinginan untuk mencuba. Maka diapun bertanya tentang dosa apa yang akan dia lakukan. Syaitan menjawab “Engkau bisa membunuh seseorang”. Kata sang abid “Itu adalah dosa besar”. Syaitan menyarankan yang kedua agar dia berzina. Sang abid juga menjawab "Itu juga dosa besar”. Saran syaitan yang ketiga meminum khamar (arak). Ternyata sang abid menerima, kerana merasakan meminum khamar adalah dosa kecil. 



Akhirnya, sang abid ke luar dari tempat peribadatanya dan mencari segelas khamar. Dia mendapatkannya dari seorang wanita penjual khamar. Setelah diminum ternyata menimbulkan rasa enak, sampai sang abid mabuk dan hilang akal. Dalam kondisi mabuk, akhirnya sang abid memperkosa wanita sipenjual. Ternyata, berita perkosaan terhadap wanita itu sampai ke telinga suaminya, hingga membuat suaminya marah dan dia berniat membunuh sang abid. Akhirnya, terjadilah perkelahian antara keduanya yang berakhir dengan terbunuhnya suami wanita  yang telah diperkosa sang abid.



Berita mengenai sang abid yang mabuk, lalu memperkosa dan membunuh manusia, tersebar ke seluruh negeri hingga akhirnya sang abid ditangkap dan disalib di tiang gantungan. Di saat sakaratnya sang abid, datanglah syaithan yang tadi berwujud manusia yang menawarkan bantuan penyelamatan, namun dengan syarat mananggalkan tauhidnya. Sang abid menyanggupi dan saat itulah malaikat datang mencabut nyawanya sehingga sang abid mati dalam kekafiran.

Pengajaran
  • Betapa hebatnya ibadah dan ketaatan seseorang, tidak serta merta menjadi jaminan dia akan menjadi penghuni syurga. 
  • Begitu juga, ketaatan dan kesolehan seseorang tidak menjadi jamian bahawa dia akan selamat dari pujuk rayu syaitan yang ingin menyesatkannya. Hal itu bertujuan agar manusia tidak merasa angkuh atau sombong dengan ibadahnya yang banyak.
  • Syaitan telah bersumpah akan menyesatkan manusia dari jalan Allah dengan cara apapun. Hal itu diungkapkan Allah swt dalam surat al-A'raf [7]: 16-17
Ertinya: “Iblis menjawab:" kerana Engkau telah menghukum saya sesat, maka saya pasti akan menyesatkan mereka dari jalanMu yang benar . Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”

7 May 2011

Isteri Solehah : Isteri Yg Sentiasa Syukur & Sabar di Hati

Sejarah Nabi Ibrahim sewaktu baginda menziarahi menantunya. Pada waktu itu, puteranya, Nabi Ismail tiada di rumah sedangkan isterinya belum pernah bertemu bapa mertuanya, Nabi Ibrahim.

Apabila sampai di rumah anaknya itu, terjadilah dialog antara Nabi Ibrahim dan menantunya.

Nabi Ibrahim : Siapakah kamu?
Menantu : Aku isteri Ismail.
Nabi Ibrahim : Di manakah suamimu, Ismail?
Menantu : Dia pergi berburu.
Nabi Ibrahim : Bagaimanakah keadaan hidupmu sekeluarga?
Menantu : Oh, kami semua dalam kesempitan dan (mengeluh) tidak
pernah senang dan lapang.
Nabi Ibrahim : Baiklah! Jika suamimu balik, sampaikan salamku padanya.
Katakan padanya, tukar tiang pintu rumahnya (sebagai kiasan
supaya menceraikan isterinya).
Menantu : Ya, baiklah.


Setelah Nabi Ismail pulang daripada berburu, isterinya terus menceritakan tentang orang tua yang telah singgah di rumah mereka.

Nabi Ismail : Adakah apa-apa yang ditanya oleh orang tua itu?
Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.
Nabi Ismail : Apa jawapanmu?
Isteri : Aku ceritakan kita ini orang yang susah. Hidup kita ini selalu dalam
kesempitan, tidak pernah senang.
Nabi Ismail : Adakah dia berpesan apa-apa?
Isteri : Ya ada. Dia berpesan supaya aku menyampaikan salam
kepadamu serta meminta kamu menukarkan tiang pintu rumahmu.
Nabi Ismail : Sebenarnya dia itu ayahku. Dia menyuruh kita berpisah.
Sekarang kembalilah kau kepada keluargamu.

Ismail pun menceraikan isterinya yang suka merungut, tidak bertimbang rasa serta tidak bersyukur kepada takdir Allah SWT. Sanggup pula mendedahkan rahsia rumah tangga kepada orang luar.

Tidak lama selepas itu, Nabi Ismail berkahwin lagi. Setelah sekian lama, Nabi Ibrahim datang lagi ke Makkah dengan tujuan menziarahi anak dan menantunya. Berlakulah lagi pertemuan antara mertua dan menantu yang saling tidak mengenali.

Nabi Ibrahim : Dimana suamimu?
Menantu : Dia tiada dirumah. Dia sedang memburu.
Nabi Ibrahim : Bagaimana keadaan hidupmu sekeluarga?
Mudah-mudahan dalam kesenangan?
Menantu : Syukurlah kepada tuhan, kami semua dalam keadaan sejahtera,
tiada apa yang kurang.
Nabi Ibrahim : Baguslah kalau begitu.
Menantu : Silalah duduk sebentar. Boleh saya hidangkan
sedikit makanan.
Nabi Ibrahim : Apa pula yang ingin kamu hidangkan?
Menantu : Ada sedikit daging, tunggulah saya sediakan minuman dahulu.
Nabi Ibrahim : (Berdoa) Ya Allah! Ya Tuhanku! Berkatilah mereka
dalam makan minum mereka. (Berdasarkan peristiwa ini,
Rasulullah beranggapan keadaan mewah negeri Makkah adalah
berkat doa Nabi Ibrahim).
Nabi Ibrahim : Baiklah, nanti apabila suamimu pulang, sampai- kan salamku
kepadanya. Suruhlah dia menetapkan tiang pintu rumahnya
sebagai kiasan untuk mengekalkan isteri Nabi Ismail).

Apabila Nabi Ismail pulang daripada berburu, seperti biasa dia bertanya sekiranya sesiapa datang datang mencarinya.

Nabi Ismail : Ada sesiapa datang semasa aku tiada di rumah?
Isteri : Ya, ada. Seorang tua yang baik rupanya dan perwatakannya
sepertimu.
Nabi Ismail : Apa katanya?
Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.
Nabi Ismail : Apa jawapanmu?
Isteri : Aku nyatakan kepadanya hidup kita dalam keadaan baik, tiada
apapun yang kurang. Aku ajak juga dia makan dan minum.
Nabi Ismail : Adakah dia berpesan apa-apa?
Isteri : Ada, dia berkirim salam buatmu dan menyuruh kamu
mengekalkan tiang pintu rumahmu.
Nabi Ismail : Oh, begitu. Sebenarnya dialah ayahku. Tiang pintu yang
dimaksudkannya itu ialah dirimu yang dimintanya untuk aku
kekalkan.
Isteri : Alhamdulillah, syukur.

Isteri solehah hendaklah sentiasa bersyukur dalam keadaan senang mahupun susah supaya Allah tambahkan lagi rahmat-Nya seperti firman-Nya yang bermaksud:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu. Dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih.” (Surah Ibrahim, ayat 7)